AI sebagai Senjata dan Sasaran: Intisari Laporan Threat Hunting CrowdStrike 2025

Memasuki pertengahan tahun 2025, satu hal menjadi jelas: pelaku kejahatan siber tidak hanya beradaptasi—mereka berinovasi. Dan hal ini paling nyata terlihat dalam pemanfaatan Artificial Intelligence (AI). Laporan terbaru CrowdStrike Threat Hunting 2025 menyoroti lanskap ancaman yang berubah cepat, di mana AI kini menjadi senjata ampuh sekaligus sasaran empuk.

Berdasarkan pengalaman tim threat hunter dan analis elite CrowdStrike, laporan ini mengungkap evolusi signifikan dalam taktik, teknik, dan prosedur musuh siber. Mulai dari penyalahgunaan generative AI untuk mengotomatisasi serangan, hingga lonjakan besar dalam intrusi cloud dan ancaman berbasis identitas, laporan ini menegaskan bahwa organisasi perlu mengubah cara mereka mendeteksi dan merespons ancaman modern.

AI Bukan Lagi Sekadar Alat—Kini Jadi Senjata

Salah satu poin paling krusial dari laporan ini adalah meningkatnya “senjataan AI”. Pelaku ancaman kini menggunakan GenAI secara luas untuk menjalankan operasi yang sebelumnya memerlukan banyak waktu dan sumber daya—seperti menciptakan identitas palsu, menulis malware canggih, dan meluncurkan kampanye phishing yang sangat ditargetkan.

Contoh nyata adalah FAMOUS CHOLLIMA, kelompok yang dikaitkan dengan Korea Utara, yang menyusup ke lebih dari 320 perusahaan dalam setahun—naik 220% dibandingkan tahun sebelumnya. Operasi mereka menggunakan AI di setiap tahap: membuat CV palsu, menggunakan deepfake real-time dalam wawancara kerja, hingga memakai AI code generators setelah berhasil masuk ke dalam sistem.

Kelompok lain seperti EMBER BEAR dan CHARMING KITTEN menggunakan AI untuk menyebar disinformasi dan menciptakan jebakan phishing yang hampir tidak bisa dibedakan dari komunikasi resmi. Kampanye semacam ini semakin sulit dideteksi dengan alat keamanan tradisional.

AI Juga Jadi Target Baru Serangan

Dengan semakin banyaknya bisnis yang mengadopsi alat dan agen AI, pelaku ancaman mulai menjadikan sistem AI itu sendiri sebagai titik serangan. CrowdStrike mendeteksi berbagai kasus eksploitasi celah keamanan dalam perangkat lunak AI untuk mendapatkan akses awal ke sistem perusahaan.

Yang lebih mengkhawatirkan, AI membuka jalan bagi pelaku dengan kemampuan teknis rendah untuk melancarkan serangan. Kini mereka dapat membuat malware (seperti Funklocker dan SparkCat), menulis kode, dan melewati kontrol keamanan—menurunkan batas kemampuan teknis yang dibutuhkan untuk melakukan kejahatan siber.

Serangan Lintas Domain Jadi Standar Baru

Laporan ini juga menyoroti tren meningkatnya serangan lintas domain, di mana pelaku ancaman bergerak dengan mudah antar endpoint, identitas, cloud, dan sistem unmanaged. Tidak ada lagi satu lapisan pertahanan yang cukup.

Contoh ekstrem adalah SCATTERED SPIDER yang dikenal menggunakan teknik vishing (meniru karyawan lewat telepon untuk membobol MFA), lalu dengan cepat berpindah ke lingkungan SaaS dan cloud. Dalam satu kasus, mereka berhasil mengubah akses awal menjadi serangan ransomware hanya dalam waktu kurang dari 24 jam.

Identitas tetap menjadi titik serangan utama. Pelaku memanfaatkan data pribadi (PII) untuk menjawab verifikasi, masuk tanpa izin, dan menyusup ke sistem SaaS untuk mempertahankan akses.

Cloud Jadi Medan Perang Utama

Serangan cloud meningkat 136% di paruh pertama 2025 dibandingkan sepanjang tahun 2024. Aktor negara seperti GENESIS PANDA dan MURKY PANDA memanfaatkan kesalahan konfigurasi dan akses terpercaya untuk menyusup tanpa terdeteksi. GLACIAL PANDA bahkan menyusup jauh ke dalam infrastruktur telekomunikasi, menyumbang lonjakan 130% dalam intrusi yang menargetkan sektor ini.

Pesannya jelas: perlindungan cloud bukan lagi pilihan. Salah konfigurasi, penyalahgunaan identitas, dan pemantauan yang lemah dapat membuka pintu bagi operasi spionase jangka panjang.

Pelaku Ancaman Semakin Cerdas dan Cepat

Beberapa data penting dari laporan:

  • 81% intrusi interaktif tidak menggunakan malware—mereka memakai teknik living-off-the-land.
  • Intrusi interaktif naik 27%—tanda pelaku lebih inovatif daripada pertahanan tradisional.
  • 73% dari intrusi ini dilakukan oleh kelompok eCrime.
  • Teknik vishing diperkirakan akan dua kali lipat di akhir 2025.
  • Sektor pemerintahan mengalami lonjakan 71% dalam intrusi interaktif dan peningkatan 185% serangan yang ditargetkan secara tahunan.

Statistik ini menunjukkan satu hal: pelaku ancaman kini bukan hanya lebih nekat—mereka jauh lebih pintar.

Respons yang Harus Dilakukan Organisasi

Untuk menghadapi ancaman baru yang bertenaga AI dan menyasar lintas domain serta identitas, organisasi harus beralih dari reaktif menjadi proaktif:

  • Investasi dalam perlindungan identitas yang melampaui sekadar MFA.
  • Perkuat sistem cloud dan pantau potensi salah konfigurasi secara aktif.
  • Pahami bahwa AI kini adalah vektor serangan sekaligus target.
  • Gunakan intelijen ancaman terkini untuk tetap selangkah di depan.

Laporan ini bukan hanya gambaran ancaman saat ini—tapi peringatan keras tentang arah perkembangan ke depan.

📥 Unduh laporan lengkap CrowdStrike Threat Hunting Report 2025 dan ikuti CrowdCast untuk pembahasan lebih mendalam.

Lindungi Cloud Anda dengan Teknologi Keamanan Terdepan

Tim CrowdStrike Indonesia, bersama mitra resmi kami PT. iLogo Infralogy Indonesia, siap membantu Anda menghadapi tantangan keamanan siber — terutama dalam melindungi infrastruktur cloud bisnis Anda.

Dengan teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI) yang terbukti efektif, kami bisa membantu mengevaluasi sistem keamanan Anda dan memberikan solusi yang sesuai dengan kebutuhan spesifik perusahaan Anda.

Kami juga menyediakan sesi demo langsung, agar Anda bisa melihat secara langsung bagaimana teknologi CrowdStrike bekerja dan bagaimana kami bisa membantu menjaga sistem Anda tetap aman dari ancaman siber.

🔐 Jangan tunggu sampai serangan terjadi.
Hubungi kami hari ini untuk konsultasi gratis, dan ambil langkah pencegahan yang tepat untuk keamanan bisnis Anda.