Laporan Ancaman Global CrowdStrike 2025: Waspadai Lawan yang Inovatif

Ancaman siber terus berkembang, dengan para pelaku ancaman yang semakin cerdas dan terorganisir. Tahun 2024 menjadi tahun di mana para peretas beroperasi layaknya sebuah bisnis yang profesional. Mereka menyempurnakan strategi, mengembangkan teknologi baru, dan meningkatkan efisiensi dalam menjalankan serangan siber.

Laporan Global CrowdStrike 2025 memberikan wawasan mendalam mengenai lanskap ancaman yang terus berubah dan taktik yang digunakan oleh para peretas. Tim CrowdStrike Counter Adversary Operations menemukan bahwa pelaku ancaman kini semakin fokus dan profesional, mirip dengan perusahaan yang mereka targetkan. Mereka dengan cepat belajar dan beradaptasi dengan sistem pertahanan yang berkembang, sambil tetap mempertahankan tujuan mereka.

Para pelaku ancaman ini tidak boleh diremehkan. Dengan data dan wawasan yang disediakan dalam laporan tahun ini, bisnis dapat lebih siap menghadapi mereka.

Meningkatnya Ancaman Siber yang Terorganisir

Pelaku ancaman kini lebih cepat, lebih pintar, dan lebih sulit dideteksi. Waktu rata-rata yang dibutuhkan untuk berpindah dari satu perangkat yang terinfeksi ke perangkat lain dalam jaringan organisasi (dikenal sebagai “breakout time”) turun menjadi 48 menit pada tahun 2024, dibandingkan dengan 62 menit pada tahun sebelumnya. Rekor waktu breakout tercepat? Hanya 51 detik.

Sebelum mereka bisa menyebar, mereka harus masuk terlebih dahulu. Pada tahun 2024, teknik rekayasa sosial menjadi metode utama bagi para peretas. Serangan voice phishing (vishing) meningkat hingga 442% dalam paruh kedua tahun 2024, karena pelaku ancaman menggunakan teknik vishing, callback phishing, dan rekayasa sosial terhadap help desk untuk mendapatkan akses ke jaringan target. Mereka juga memanfaatkan kredensial yang telah dikompromikan untuk masuk dan bergerak dalam organisasi seperti pengguna sah, sehingga sulit terdeteksi. Iklan penjualan akses akun curian oleh broker akses meningkat 50% dari tahun ke tahun. Sebagian besar serangan pada tahun 2024 (79%) dilakukan tanpa malware, menunjukkan peningkatan aktivitas langsung oleh peretas.

Dalam upaya ini, para peretas juga mulai memanfaatkan kecerdasan buatan generatif (GenAI). Pada tahun 2024, GenAI digunakan untuk meningkatkan efektivitas rekayasa sosial, mempercepat penyebaran misinformasi, dan mendukung aktivitas jahat dalam jaringan. CrowdStrike mengamati bahwa kecerdasan buatan digunakan dalam serangan business email compromise (BEC) dan phishing, di mana model bahasa besar (LLM) mampu menghasilkan email dan situs phishing dengan kualitas yang setara dengan manusia. Meski masih tergolong baru, kemudahan akses dan kekuatan GenAI telah meningkatkan skala, kecepatan, dan efektivitas serangan siber.

Ancaman dari Negara dan Eksploitasi Teknologi Cloud

Aktivitas ancaman dari negara semakin berkembang sepanjang tahun 2024, dengan China sebagai pemimpin utama. Aktivitas peretasan yang terkait dengan China meningkat 150% di seluruh sektor industri, dengan lonjakan 200-300% pada sektor keuangan, media, manufaktur, serta industri/teknik. CrowdStrike mengidentifikasi tujuh kelompok peretas baru yang berafiliasi dengan China pada tahun 2024, menunjukkan pergeseran ke arah serangan yang lebih terarah. Kelompok seperti LIMINAL PANDA dan VAULT PANDA menargetkan sasaran tertentu dengan tingkat kecanggihan yang lebih tinggi.

CrowdStrike kini melacak 257 kelompok ancaman siber yang diberi nama, serta lebih dari 140 klaster aktivitas peretasan baru yang muncul. Untuk menghentikan para peretas ini, kita harus memahami pola, motivasi, dan teknik yang mereka gunakan. Berikut adalah beberapa tren yang diungkap dalam laporan tahun ini:

  • Serangan terhadap lingkungan cloud semakin meningkat: Insiden intrusi cloud baru yang belum diidentifikasi meningkat 26% dibandingkan tahun sebelumnya. Penyalahgunaan akun yang sah menjadi metode utama akses awal, menyumbang 35% dari insiden cloud pada paruh pertama 2024.
  • Eksploitasi SaaS menjadi tren yang harus diwaspadai: Peretas semakin sering menargetkan aplikasi berbasis cloud untuk pencurian data, pergerakan lateral, pemerasan, dan serangan terhadap pihak ketiga. Mereka sering mendapatkan akses dengan mengkompromikan identitas single sign-on (SSO).
  • Kerentanan perangkat lunak yang belum ditambal menjadi sasaran utama: Perangkat jaringan yang terhubung langsung ke internet menjadi target utama pada tahun 2024, karena para peretas mengeksploitasi kelemahan bawaan perangkat ini untuk mendapatkan akses awal, terutama di tempat di mana sistem deteksi dan respons (EDR) memiliki visibilitas terbatas.
  • Ancaman orang dalam semakin berkembang: Operasi ancaman orang dalam semakin canggih, dengan para peretas menyusup sebagai karyawan dalam organisasi target. Pada tahun 2024, CrowdStrike menangani 304 insiden yang melibatkan kelompok FAMOUS CHOLLIMA, dengan hampir 40% di antaranya terkait dengan ancaman orang dalam.

CrowdStrike menjadi pelopor dalam pendekatan keamanan siber berbasis analisis terhadap pelaku ancaman, karena pendekatan ini terbukti paling efektif dalam melindungi organisasi dari ancaman modern. Dengan intelijen yang dikumpulkan, CrowdStrike memahami musuh lebih baik daripada siapa pun.

Baca Laporan Ancaman Global CrowdStrike 2025 untuk mendapatkan gambaran menyeluruh tentang bagaimana para peretas beroperasi saat ini dan pelajari bagaimana memperkuat pertahanan Anda terhadap mereka.

Jika Anda ingin mengetahui lebih lanjut mengenai bagaimana CrowdStrike dapat memperkuat keamanan di organisasi Anda, jangan ragu untuk menghubungi crowdstrike.ilogoindonesia.id. Tim kami siap memberikan informasi yang lebih mendalam dan membantu Anda memilih solusi yang paling sesuai dengan kebutuhan bisnis Anda. Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat menghubungi PT. iLogo Infralogy Indonesia yang siap memberikan penjelasan lebih lengkap mengenai solusi ini.